SUGIOTO LUNCURKAN “KITA BELUM DEWASA”: TAMBARAN KERAS BAGI SOSIAL DAN DUNIA USAHA YANG KEHILANGAN ARAH

PERSISINews.Com —Pontianak,2 Mei 2026 Kalimantan Barat — Di tengah riuhnya dinamika sosial dan praktik dunia usaha yang semakin kompleks, sebuah karya hadir bukan untuk menenangkan, tetapi untuk mengguncang kesadaran. Sugioto secara resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul Kita Belum Dewasa—sebuah karya yang berani membuka tabir realitas, tanpa kompromi, tanpa basa-basi.

Buku ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cermin keras yang memaksa kita melihat wajah sendiri—wajah masyarakat yang kerap berbicara tentang kemajuan, tetapi masih tersandera oleh pola pikir sempit, emosi sesaat, dan kepentingan jangka pendek.

Dalam Kita Belum Dewasa, Sugioto menyampaikan satu pesan fundamental:
Masalah terbesar kita bukan pada sistem—melainkan pada manusia yang menjalankan sistem itu sendiri.

MENGULITI REALITAS: SOSIAL YANG RAPUH, BISNIS YANG KEHILANGAN ETIKA

Dengan gaya bahasa yang lugas, tajam, dan tanpa tedeng aling-aling, buku ini membedah berbagai fenomena yang selama ini sering disadari, tetapi jarang diakui secara jujur:

Ketidakdewasaan sosial tampak dalam:

Mudahnya konflik dipicu oleh perbedaan kecil

Dominasi ego dibandingkan kepentingan bersama

Rendahnya budaya dialog dan kedewasaan berpikir

Sementara dalam dunia usaha, ketidakdewasaan menjelma menjadi:

Praktik bisnis yang mengabaikan integritas

Orientasi keuntungan sesaat tanpa keberlanjutan

Minimnya tanggung jawab terhadap dampak sosial dan lingkungan

Sugioto menegaskan, ketika etika ditinggalkan dan kedewasaan diabaikan, maka yang lahir bukan kemajuan—melainkan krisis yang terus berulang dengan wajah yang berbeda.

BUKAN SEKADAR KRITIK, TAPI TAMBARAN YANG MENYENTAK

Berbeda dari karya motivasi yang cenderung menenangkan, buku ini justru menyentak dan menggugat. Ia tidak memberi ruang bagi pembaca untuk bersembunyi di balik alasan atau menyalahkan keadaan.

Judul “Kita Belum Dewasa” adalah sebuah pernyataan kolektif:

“Kita” berarti tidak ada yang dikecualikan

“Belum Dewasa” berarti masih ada kegagalan dalam moral, etika, dan tanggung jawab

Ini bukan tuduhan kepada satu pihak—melainkan pengakuan bersama yang selama ini dihindari.

Sorotan terhadap peluncuran buku ini juga mendapat perhatian dari Pontianak Post, yang menilai karya ini sebagai refleksi tajam terhadap kondisi sosial yang sedang berlangsung.

SERUAN PERUBAHAN: BERHENTI MENYALAHKAN, MULAI BERBENAH

Lebih jauh, Sugioto tidak berhenti pada kritik. Ia mengajak publik untuk melakukan sesuatu yang sering kali paling sulit: introspeksi.

Perubahan, menurutnya, tidak akan pernah lahir dari:

Retorika tanpa tindakan

Kritik tanpa refleksi

Ambisi tanpa etika

Perubahan hanya akan terjadi ketika:

Individu berani mengakui kekurangan

Pelaku usaha menjunjung tinggi integritas

Masyarakat membangun kedewasaan kolektif

KESIMPULAN: SEBUAH VONIS SOSIAL SEKALIGUS HARAPAN

Kita Belum Dewasa adalah lebih dari sekadar buku. Ia adalah:

Kritik sosial yang tajam

Alarm bagi dunia usaha

Cermin bagi masyarakat

Sekaligus harapan untuk perubahan

Karya ini menegaskan satu hal yang tidak bisa lagi dihindari:
Selama kedewasaan belum menjadi fondasi, maka kemajuan hanya akan menjadi ilusi.

PENUTUP

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran baru. Bukan kesadaran yang nyaman, tetapi kesadaran yang jujur—meski terasa pahit.

Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh sistem yang kuat, tetapi oleh manusia yang dewasa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Tim : Liputan